Benih, Entry Point Ketahanan Pangan Nasional

Kepala Badan Litbang Pertanian, yang diwakili oleh Kapuslitbangtan Dr. Ir. Moh. Ismail Wahab, MSi. menyampaikan topik "Kebijakan Ketersediaan Benih Tanaman Pangan Nasional" dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pada Rabu (24/10/2018) di Jakarta.

Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kebijakan Nasional dan Ketersediaan Bibit dan Benih Komoditas Pangan  Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional Tahun 2019 – 2024”. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan, FGD ini diharapkan dapat menjadi entry point untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkesinambungan.

Saat pembukaan FGD, Wakil Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Suharyo Husen mengemukakan bahwa membangun industri perbenihan dan perbibitan swasta nasional merupakan upaya mendasar dalam pembangunan sektor pertanian. Hal ini tidak lain karena benih varietas unggul bermutu merupakan penentu batas atas produktivitas dan kualitas produk suatu usaha tani, baik usaha tani besar maupun usaha tani kecil.

Lebih lanjut Kapuslitbangtan menyatakan bahwa Balitbangtan terus berupaya menghasilkan inovasi teknologi untuk mendukung peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai nasional untuk mencapai dan mempertahankan swasembada pangan berkelanjutan. Beberapa varietas unggul baru padi, jagung, dan kedelai (pajale) yang telah dihasilkan oleh Balitbangtan disampaikan pada forum ini, misalnya saja Inpari 42 dan 43, NASA 29 dan JH 28 Agritan, Deja 1 dan Deja 2 serta varietas unggul pajale lainnya.  

Terkait kebijakan, dijelaskan olehnya bahwa secara umum benih dari varietas unggul yang diperjualbelikan harus berlabel (telah dilepas oleh Mentan, diperbanyak melalui proses sertifikasi dan telah lulus dalam serifikasi tersebut) (UU No. 12 tahun 1992). Sedangkan untuk penyediaanya, terdapat beberapa program kebijakan mulai dari adanya Permentan No. 12 tahun 2018 (pasal 6) dan Permentan No. 12 tahun 2018  (pasal 15), Program Desa Mandiri Benih, Program Pemberdayaan Penangkar sampai dengan Program Pemanfaatan Kebun Percobaan Balitbangtan.

Pada sisi lain, Kepala Puslitbangtan melihat forum ini merupakan media yang penting untuk dapat dimanfaatkan sebagai media  sosialisasi berbagai varietas unggul baru kepada Kadin Indonesia dan stakeholder lain, mengingat posisi peserta FGD yang hadir mayoritas adalah “pengguna antara” inovasi Balitbangtan apabila dilihat dari spektrum diseminasi multichannel. Stakeholder forum ini berpotensi menjadi agen sosialisasi dalam penderasan informasi varietas-varietas unggul baru.

Sementara itu, narasumber lainnya dari Bappenas dan IPB yang juga menyampaikan pandangannya masing-masing. Menurut wakil Bappenas, RPJM ke depan peran dunia usaha harus lebih besar dan bagaimana kita dapat membangun sistem perbenihan nasional. Di sisi lain, perwakilan IPB berpendapat bahwa dalam sistem perbenihan terdapat tiga kategori yaitu: Formal, semi-formal, dan Informal. Lebih jauh, IPB menuturkan bahwa.seed security akan membawa kita kepada food security.

 Di akhir FGD, Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia Franky Welirang berkesimpulan Dari FGD singkat ini masih diperlukan waktu untuk memperoleh satu kesimpulan yang mengarah pada rekomendasi kebijakan. Oleh karena itu, perlu diadakan kembali FGD untuk mendiskusikan lebih lanjut dari pertemuan ini dengan topik yang spesifik. 

Kendati demikian, ia melihat beberapa hal layak mendapat perhatian seperti National Seed Bank yang sebelumnya pernah dicetuskan, perencanaan dalam National Food Planning, kebijakan mengenai GMO termasuk juga sosialisasi dari berbagai varietas unggul baru yang dihasilkan Balitbangtan.

FGD ini diikuti oleh Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia, Wakil Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia, Bappenas, Kementan RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, IPB, Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti serta beberapa undangan lainnya dari berbagai Asosiasi dan Dewan Komoditas. (HRY/AWA).

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar