Launching Inovasi Teknologi Mekanisasi Pertanian Modern Mendukung Revolusi Industri 4.0

Mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045, merupakan target jangka panjang sektor pertanian. Target ini sudah mulai diwujudkan secara bertahap antara lain melalui keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras dalam 2 tahun terakhir. Capaian ini merupakan hasil kerja keras dari semua pihak baik petani, penyuluh, peneliti dan para penentu kebijakan pertanian di negeri ini. Tantangan produksi tanaman pangan dan pertanian kedepan akan semakin besar baik di tingkat regional maupun internasional dan hal ini akan sangat berat jika produksi pertanian masih dilakukan dengan pendekatan tradisional. Untuk itu transformasi mendasar sangat dibutuhkan, khususnya loncatan teknologi ke pertanian moderen, yang tidak sekedar perbaikan teknologi irigasi, penggunaan pupuk dan pestisida, dan pengembangan varietas unggul baru, namun mengarah kepada  pertanian cerdas/pertanian presisi.

Saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengubah sistem pertanian ke pertanian moderen mengikuti model industri 4.0. Revolusi pertanian yang akan datang, sektor pertanian sedang bereksperimen dengan model dan inovasi bisnis baru, yaitu: pertanian presisi, pertanian vertikal, pertanian pintar (smart farming). Data besar, sensor dan drone, alat analisis, "internet pertanian" dan otomatisasi alsintan adalah beberapa teknologi yang mendukung industri 4.0. Mekanisasi pertanian menggunakan teknologi canggih seperti robot, sensor suhu dan kelembaban, computer vision, cloud data, artificial neural network (ANN), dan teknologi GPS. Kemajuan ini akan memungkinkan bisnis menjadi lebih menguntungkan, efisien, lebih aman, dan ramah lingkungan. Melalui implementasi Industri 4.0 disektor pertanian, diharapkan proses usahatani menjadi semakin efisien, sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan daya saing.

Pada November 2017 lembaga riset McKinsey Global Institute telah menerbitkan analisa yang memprediksi bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menghilangkan delapan ratus juta lapangan kerja di seluruh dunia antara sekarang sampai nanti tahun 2030 karena diambil alih oleh robot dan mesin dalam dua belas tahun kedepan. Tetapi sebaliknya Presiden RI, Joko Widodo, sangat optimis bahwa Revolusi Industri 4.0 akan melahirkan jauh lebih banyak lapangan kerja baru dari pada jumlah lapangan kerja yang hilang, yang disampaikan oleh McKinsey. Artinya Revolusi Industri 4.0 ini sebuah peluang besar kalau kita mempersiapkan, kalau kita merencanakan, dan bisa mengantisipasiini. Revolusi Industri 4.0 bisa sebuah ancaman atau tidak tergantung kita mempersiapkannya.

 

Dengan perencanaan yang baik melalui teknologi dan solusi baru dalam era industri 4.0 yang dapat memberi harapan pencapaian swasembada pangan untuk mencapai lumbung pangan dunia pada 2045 antara lain : (1). Teknologi untuk memproduksi hasil yang berbeda menggunakan teknik baru; (2). Teknologi baru untuk produksi dan meningkatkan efisiensi dalam rantai makanan; dan (3). Kolaborasi teknologi dan aplikasi lintas industri.

Terkait dukungan untuk industri 4.0, Balitbangtan telah menghasilkan seperangkat inovasi teknologi mekanisasi pertanian, yaitu: (1). traktor tanpa operator (autonomous tractor); (2). Smart irrigation; (3). Smart Green House; (4). Robot grafting; (5). telescoping boom sprayer; (6). Drone deteksi unsur hara; (7). mobile dryer; (8). rice Upland Seeder by Farm Dozer; (9). jarwo riding transpalnter; (10). alsin penanam tebu dan pemasang drip line irigasi; (11). penanam benih padi; (12). kandang ayam close system mendukung program bekerja; (13). Sistem Administrasi Pengujian Alsintan (SAPA MEKTAN); dan (14). UPJA smart mobile.

Pada kegiatan Lounching tersebut, Menteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman, dalam sambutannya mengatakan bahwa dunia saat ini telah memasuki era revolusi industri yang ke-empat atau disebut juga Industri 4.0.Era ini ditandai 4 dengan penggunaan mesin-mesin otomasi yang terintegrasi dengan jaringan internet (internet of things). Lebih lanjut dikatakan bahwa yang dapat memajukan pertanian Indonesia agar dapat bersaing dengan negara lain yakni “mekanisasi”. Balitbangtan telah menghasilkan banyak inovasi teknologi mekanisasi pertanian yang baru saja di Lounching. Semua inovasi teknologi Baltbangtan yang di launching tersebut diharapkan diadopsi dan diproduksi massal oleh para perusahaan alsintan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas usahatani sehingga mampu meningkatkan produksi usahatani dan kesejahteraan petani.

Dengan telah banyaknya hasil-hasil inovasi teknologi pertanian Balitbangtan yang membuat petani di Indonesia menjadi petani milenial yang smart, untuk itu Menteri Pertanian mengajak generasi muda, pemuda pemudi untuk turun ke sawah, untuk ikut berperan aktif membangun negeri melalui pertanian.

Acara Lounching Inovasi Teknologi Mekanisasi diakhiri  dengan penandatanganan MoU antara Kementerian Pertanian RI, (Dr. Andi Amran Sulaiman) yang didampingi Kepala Badan Litbang Pertanian (Dr. Muhammad Syakir) dengan Bupati Malaka, Nusa Tenggra Timur (Stefanus Bria) dan Bupati Linggga, Kepulauan Riau (Alias Wello), sebagai kabupaten yang siap menerapkan teknologi pertanian moderen mulai dari pengolahan lahan, penanaman hingga panen. Kementerian Pertanian RI, melalui Balitbangtan telah menugaskan BPTP untuk melakukan pendampingan di Kabupaten Malaka dan Kabupaten Linggga agar program tersebut berjalan sesuai harapan.

Keberhasilan  Balitbangtan mengembangkan inovasi teknologi mekanisasi tidak berhenti sampai disitu saja, dalam rangka akselerasi diseminasi teknologi mekanisasi kepada petani maka Puslitbangtan akan menerapkan mekanisasi menuju pertanian moderen dengan petani yang smart dalam setiap kegiatan diseminasi, demikian arahan Kapus Litbang Tanaman Pangan Dr. Moh. Ismail Wahab. Harapannya swasembada beras yang telah dicapai dapat ditingkatkan guna mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045. (RTPH)

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar